Arsip untuk Juni, 2008

RANSEL©

Juni 27, 2008

Dalam hal urusan memilih, kita seringkali dihadapkan pada pilihan yang kadang belum tentu benar dan sudah tentu benar. Ini semacam permainan russian roulette berputar dan berulang-ulang saja.

Entah karna dihadapkan dengan pilihan baik atau buruk, suatu hari di Tanatoraja sulsel selepas acara pernikahan sepupu teman saya, kami pun pergi melihat acara tradisi yang disana (toraja) di adakan setiap kali ada kematian.

Saya mendekati rombongan turis mancanegara yang sangat-sangat menikmati pertunjukan adu kerbau ini.
Ketika saya baru saja “say hello” pada turis ini, tiba-tiba saja sang turis langsung menitipkan tas ranselnya pada saya dan bergegas mendekat ke arena untuk memotret.(jarak saya dengan arena 20 meter)

Belum cukup kekagetan saya melihat kerumunan orang banyak ini, eh si turis ini menambahnya dengan menitipkan barangnya pada orang yang belum terlalu dikenalnya. Si turis ini hanya melihat mata saya saja tanpa harus melihat KTP saya dan selanjutnya berani menitipkan sesuatu miiknya yang berharga.

Gila, gumam pertama kali dalam hatiku ini. Gila karna tidak menyangka hanya dengan bertatap mata bagi seseorang, itu sudah merupakan jaminan keselamatannya.
Waktu terasa lama bagiku saat itu, konflik pikiran lagi-lagi menderaku, salah satunya adalah khawatir membayangkan kalau-kalau ransel ini, adalah barang yang berbahaya waduh, bisa runyam diri ini, atau ini : kurang ajar turis ini, emangnya aku ini tempat penitipan barang ya?? Kutenangkan diri ini se-hening-heningnya hingga energi positif membantuku lepas dari konflik. Tak mudah membuat diri ini merasa hening ditengah khalayak yang sangat ramai dan tentu saja sangat ribut.

Sang turis pun kembali menghampiriku dan membalas tegur sapaku tadi dan mulai memperkenalkan dirinya tak lupa ia berterima kasih padaku karena telah menjaga tasnya.
Pengalaman ini memberiku pelajaran bahwa pilihan ada luas terbentang untuk kita, apa yang terjadi seandainya saya memilih kabur membawa tas turis tersebut atau membiarkan tas tersebut di sambar orang lain???

Tentang bagaimana memilih pilihan yang baik biarkanlah keimanan dalam diri kita yang membimbing.
Jika kesempatan untuk berbuat baik datang, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya tanpa mengharap imbalan jasa karna jika kesempatan untuk berbuat baik itu tak digunakan maka, bersiaplah untuk menyesal seumur hidup. Tetapi jika jangan pernah menyesal adalah prinsip anda maka semakin mantaplah kesempatan untuk berbuat baik itu dilakukan.

TRADISI©

Juni 4, 2008

Smart netter, melihat pola sosial masyarakat kita disekitar lingkungan daerah, adalah merupakan tempat untuk kita meng-explorasi lebih jauh peradaban sosial kita. Entah itu seberapa maju, seberapa mundur yang jelas bahwa sehari-hari begitu banyak ragam peradaban di negri ini. Jelas sekali arti kemanusiaan yang adil dan beradab bagi kita semua, ini hal yang layak untuk disyukuri dan dimengerti.
Begitu banyak sekali makna yang terkandung yang bisa kita ambil sebagai pelajaran di dalam interaksi sosial kita, dalam bingkai tradisi. Negri ini adalah negri yang kaya akan peradaban sosial. Alangkah baiknya jika kita ikut melestarikan tradisi dan bukan sekedar menjalankannya. Akan lebih baik lagi jika kita memahami setiap tradisi yang kita kenali dan laksanakan itu. Kesannya akan jauh berbeda jika kita memahami suatu tatanan sosial dan menjalankannya katimbang cuma sekedar latah dalam menjalaninya. Tradisi jika kita tidak mencermati dengan akal, bisa berakibat fatal juga, karna tradisi nyaris bersentuhan dengan kepercayaan. Jika tida pandai dalam memisahkannya terjerumus dalam jurang syirik adalah resikonya.
Dikampung saya, ada tradisi yang disebut ‘naik rumah baru’. Tradisi ini berlaku bagi orang yang telah memiliki rumah baru dan akan menempatinya. Terang saja saya berminat mengamati ini, lantaran saya adalah masyarakat yang beradab yang gemar mengamati dan mempelajari sosial masyarakat di sekitar saya begitulah rasa semangat yang ada di dalam pikiran saya.
Tetangga saya mengadakan tradisi itu, tampak dari luar kesibukan melanda keluarga ini rombongan keluarganya tampak berduyun-duyun datang membantu. Tetangga saya ini bukanlah pejabat negara ataupun pengusaha besar ataupun lagi tokoh politik yang mana dengan sangat mudah untuk mendatangkan keluarganya. Tetangga saya ini hanya buruh tani saja akan tetapi jika diamati lebih jauh ia memiliki hubungan yang sungguh layak ditiru yaitu memiliki semangat persatuan keluarga yang solid. melihat hal ini, kesimpulan saya adalah bahwa tiap orang memiliki kerabat, jangan meremehkan tiap orang, ini merupakan aset besar jika kita melihatnya dalam bingkai politik begitu imbuh pikiran awam saya. Mungkin jika tiap warga indonesia memahami betul arti pancasila, tanpa ragu saya yakin kedamaian dalam berdemokrasi akan tumbuh dan berkembang. Tak ada lagi segelintir orang yang main sweping seenaknya, main pukul bahkan main hina. Tetapi realita berkata lain, masih banyak orang bahkan kelompok masyarakat yang tidak mengerti pancasila. Inilah alasan kenapa begitu gampang terjadi keributan di negri yang sangat kucintai ini. Andai Tuhan memberi hidayah pada bangsa ini, Bangsa ini akan tentram dan damai. Biarlah harapan ini tetap menjadi harapan katimbang tidak mengharap sama sekali.

saya Yamani hanya untuk id.wordpress.com